"sebuah kerikil hanya akan membuat bayangan kerikil. anda tidak akan bisa membangun bayangan sebesar gunung bila anda tidak membangun sebuah gunung. kita, anda & saya, tidak akan mampu membangun reputasi yang baik dan besar tanpa lebih dahulu membangun sebuah pribadi yang berkualitas"
( salam super. mario teguh)
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2010

SEJARAH DAN KECENDERUNGAN DESA JERUJU BESAR

Sumber :
H. Ismail, H. Abdul Fatah, H. Moh. Adam (Mantan Kades Jeruju Besar Tahun 1975 s/d 1998), dan H. Rachman Kepala Desa Jeruju Besar (Tahun 2000 s/d Sekarang)

TAHUN
1910
-Masyarakat Bugis datang dan menetap di Desa Jeruju Besar dan bertanam Padi dan Kelapa dalam
-Pada tahun yang sama etnis keturunan Tionghoa berdagang di Desa Jeruju Besar dan sebagian menetap
-Nama Jeruju Besar, berasal dari penemuan pendatang tersebut terhadap tanaman sejenis tanaman Pakis, daun dan batangnya berduri, tumbuh dirawa-rawa dan di pinggir sungai yang masih ada di Desa Jeruju Besar saat ini.
-Sebagian besar masyarakat bertani dengan menanam Padi lokal (tidak diketahui nama/var. Padinya) dan Padi ketan.
-Sebagian penduduk memelihara ternak Ayam kampung (buras) untuk dikonsumsi sendiri dan tidak untuk dijual.
-Selain bertani, masyarakat adalah nelayan pantai dan sungai di sekitar desa.

1944
-Tentara Jepang masuk ke Desa Jeruju Besar, dan memaksa sebagian penduduk untuk kerja paksa membuat jalan di Pontianak, sehingga penduduk tidak memiliki kesempatan bertanam Padi dan merawat kelapa.
-Selain itu, harga kelapa sangat rendah, sehingga sebagian penduduk tidak memelihara/menjual kelapanya dan meninggalkan Desa.

1960
-Sudah dibuat benteng atau tanggul laut, namun masih kecil dan masih dilewati oleh air pasang besar.

1961
-Datang 20 KK penduduk dari sekitar Pontianak yang merupakan keturunan penduduk yang meninggalkan desa saat pendudukan Jepang,
-Kepala Desa Jeruju Besar menganjurkan penduduknya untuk menggarap lahan tidur yang tidak digarap agar digarap.
-Pertanaman Padi dianggap baik dengan produktifitas 1,5 ton/ha dengan pemilikan lahan rata-rata 2 ha/KK dan jumlah keluarga yang bertanam Padi 90 KK.
-Kondisi tanaman Kelapa umumnya tidak terurus karena sudah lama ditinggal atau tidak dipelihara

1965-1966
-Datang penduduk baru dari etnis Melayu-Sambas ke Desa Jeruju Besar

1970 - 1971
-Penduduk mulai menanam kembali tanaman Kelapa di lahan tanaman Padi. Tanaman Padi yang diusahakan petani adalah var : lokal (Sinam, Simpang) umur 6-7 bulan, dengan produktifitas 1,5-2 ton/ha

1977
-Tanaman Kelapa yang telah ada sebelumnya, umumnya tidak berbuah karena terendam air asin dari laut.

1978
-Pemerintah membesarkan dan menyempurnakan benteng laut, sehingga air laut pada waktu pasang besar tidak masuk lagi.
-Pembuatan pintu klep diintake Parit Cik Minah dengan laut untuk menghiindari terjadinya banjir dan intrusi air laut ke lahan apabila musim kemarau, serta dilakukan perbaikan saluran tertier.
-Mulai dibangun Gilingan padi (RMU), sebelumnya untuk pengolahan gabah menjadi beras dilakukan petani dengan menumbuk gabah.
-Dari tahun 1978 – sampai sekarang (2005) sudah ada 5 Unit RMU

1980
-Sebagian penduduk mulai menjual kelapa berupa Kopra di samping pengumpul kopra yang sebelumnya telah ada.
-Terdapat penyuluhan tentang Hukum, KB dan Pertanian melalui layar tancap yang diikuti penduduk dengan antusias.

1984-1985
-Terdapat program P4S dari PU untuk perbaikan saluran tertier.
-Penduduk mulai menanam tanaman Padi 2X dalam setahun dengan bantuan sarana produksi dari pemerintah
-Panen MK tahun 1985 kurang berhasil karena serangan Tikus dan Burung
-Terbentuk beberapa kelompok tani

1986
-Tanaman Kelapa Dalam mulai dipanen dan umumnya petani mulai meninggalkan tanaman Padi, karena lahan telah dipenuhi oleh tanaman Kelapa dan aktifitas penduduk mulai tercurah untuk tanaman kelapa.
-Listrik Masuk Desa Jeruju Besar melalui akses dari Sungai Kakap

1990-1991
-Benteng / tanggul laut dikeraskan, dan berfunggsi sebagai jalan tanggul.
-Prasarana jalan mulai dikembangkan melalui pengaspalan dengan akses dari Sungai Kakap hingga ke jalan-jalan kecil.

1993
-Seiring dengan prasarana jalan yang cukup baik, petani menjual tanaman Kelapa di pinggir kebun, yang sebelumya harus di jual di pasar setempat.

1995-1996
-Terbentuk Kelompok Tani Perkebunan dengan bimbingan dari Dinas Perkebunan Propinsi Kalimantan Barat.
-Terdapat beberapa introduksi teknologi dari Dinas Perkebunan Propinsi Kalimantan Barat (Proyek ISDP Perkebunan)

1997-1998
-Pada saat terjadi krisis moneter di Indonesia, kondisi perekonomian Desa Jeruju rekatif tetap dengan melihat ; Harga jual kelapa tidak mengalami perubahan dan harga-harga sembako relatif tetap.
- Terdapat 2 unitPower Thresher, selain itu 1 unit Traktor menyewa dari Desa Parit Solo S. Kakap

1999
-Terjadi banjir besar selama 2 hari yang disebabkan hujan besar dan air pasang, namun tidak berpengaruh terhadap produksi tanaman Kelapa

2004
-Terdapat bantuan ternak Sapi untuk digulirkan dari Dinas Peternakan Propinsi Kal-Bar

2005
-Terdapat bantuan 1 unit Power Thresher


Bersambung………………………………………………………………………………………………………