"sebuah kerikil hanya akan membuat bayangan kerikil. anda tidak akan bisa membangun bayangan sebesar gunung bila anda tidak membangun sebuah gunung. kita, anda & saya, tidak akan mampu membangun reputasi yang baik dan besar tanpa lebih dahulu membangun sebuah pribadi yang berkualitas"
( salam super. mario teguh)
Tampilkan postingan dengan label oh Indonesiaku.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oh Indonesiaku.... Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Februari 2010

bandingkan Jepang dan Indonesia dalam Berbagai Situasi

Mau tau bedanya situasi & kondisi dalam berbagai situasi di Indonesia sama Jepang? Ini dia sebagian dari hasil riset saya, alias hasil celingak-celinguk kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang pengamatan saya ngeliatin tingkah orang Jepang dan orang Indonesia. Emang sih apa yang saya tulis gak bisa menggambarkan kondisi di seluruh Jepang maupun kondisi di seluruh Indonesia. Karena memang saya belum pernah sampe keliling ke seluruh pelosok Jepang, apalagi keliling Indonesia yang luasnya segede gambreng! Tapi ya lumayanlah buat bahan perenungan.

Jumat, 12 Februari 2010

facebooker bro!

inilah kelakuan wakil rakyat kita, lagi rapat sempat2nya buka facebook

inilah orang Indonesia


punya mata untuk melihat
punya otak untuk mengerti
punya hati untuk ber-empati
kok masih aja nenek itu duduk bukan pada tempatnya

kosakata indo vs malay

Semoga bermanfaat dan menjadikan kita makin lebih Mencintai Bahasa Kita Sendiri, BAHASA INDONESIA !!

INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa (oh please...)

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin-Angin

INDONESIA : " Pasukaaan.. bubar jalan !!! "
MALAYSIA : " Pasukaaan.. cerai berai !!! "

INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi

INDONESIA : rumah sakit bersalin
MALAYSIA : hospital korban lelaki (bener juga sih...)

INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA : talipon bimbit

INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut

INDONESIA : belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : pusing kiri, pusing kanan

INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam (yuukk mari...)

INDONESIA : 6.30 = jam setengah tujuh
MALAYSIA : 6.30 = jam enam setengah

INDONESIA : gratis bicara 30 menit
MALAYSIA : percuma berbual 30 minit

INDONESIA : tidak bisa
MALAYSIA : tak boleh

INDONESIA : WC
MALAYSIA : tandas

INDONESIA : Satpam / sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling

INDONESIA : Aduk
MALAYSIA : Kacau

INDONESIA : Di aduk hingga merata
MALAYSIA : kacaukan tuk datar

INDONESIA : 7 putaran
MALAYSIA : 7 pusingan

INDONESIA : Imut-imut
MALAYSIA : Comel benar

INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara

INDONESIA : bertengkar
MALAYSIA : bertumbuk

INDONESIA : pemerkosaan
MALAYSIA : perogolan

INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku

INDONESIA : joystick
MALAYSIA : batang senang (maksud loe ?!..)

INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang

INDONESIA : Air Hangat
MALAYSIA : Air Suam

INDONESIA : Terasi
MALAYSIA : Belacan

INDONESIA : Pengacara
MALAYSIA : Penguam

INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut

INDONESIA : Ban
MALAYSIA : Tayar

INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh

INDONESIA : kulkas
MALAYSIA : peti sejuk

INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual

INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat

INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing ke bandar

INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal (suntik kalee...)

INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : ketibaan

INDONESIA : bersenang-senang
MALAYSIA : berseronok

INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang

INDONESIA : rumah sakit jiwa
MALAYSIA : gubuk gila

INDONESIA : dokter ahli jiwa
MALAYSIA : dokter gila

INDONESIA : narkoba
MALAYSIA : dadah

INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan

INDONESIA : hantu Pocong
MALAYSIA : hantu Bungkus ( pesen atu bang… !!)

Kembalian Ditukar Permen, Laporkan ke Polisi

Konsumen berhak menolak pengembalian uang receh dengan barang (permen).
Pasti Anda pernah mengalami hal ini di beberapa pusat belanja. Menerima kembalian uang receh dalam bentuk permen.

Konsumen berhak menolak pengembalian uang receh dengan barang (permen), karena sesuai dengan UU Bank Indonesia mengatakan setiap transaksi di Indonesia harus dilakukan melalui mata uang rupiah.

Masalah tersebut telah dibahas bersama antara pemerintah, peritel, dan Bank Indonesia.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Subagyo menuturkan, berdasarkan pertemuan dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Bank Indonesia, telah disepakati bahwa setiap pengembalian belanja akan diberikan dalam bentuk uang.

"Memang dipahami bahwa uang dengan satuan kecil sulit didapat, tapi setelah duduk bersama, perbankan siap menyediakan kebutuhan uang satuan kecil," kata Subagyo di sela-sela Seminar 'Meningkatkan Potensi Ritel Modern Dalam Menghadapi FTA Asean-China' di Jakarta, Jumat, 12
Februari 2010.

Peritel pun, kata dia, sudah sepakat dengan hal itu dan akan terkoneksi dengan perbankan, terkait kebutuhan uang satuan kecil.

Direktur Perlindungan Konsumen Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Harmen Sembiring menghimbau, agar konsumen melaporkan ke Kepolisian jika menemukan kejadian seperti itu.

"Itu termasuk pelanggaran, karena sesuai dengan UU Bank Indonesia, semua transaksi di Indonesia harus menggunakan mata uang rupiah," kata Harmen.

Sehingga konsumen bisa mempidanakan toko atau pusat belanja yang memberikan kembalian dalam bentuk permen, karena itu hak konsumen.

Menanggapi hal itu, Ketua Harian Aprindo Tutum Rahamta mengatakan tidak ada niatan ritel modern untuk mengambil uang kembalian konsumen. "Kami sudah berkomitmen dan sudah ada kesediaan BI untuk menyediakan uang kecil. Kalau tidak ada uang kecil, misal kembalian Rp 50, kami akan kembalikan lebih misal Rp 100," ujar Tutum.

Atau, dia menambahkan, peritel akan meminta sukarela kepada konsumen untuk mendonasikan uang kembaliannya untuk kegiatan sosial.

Untuk keperluan donasi pun, Harmen menekankan, agar konsumen ditanyakan kesediaan itu sebelumnya. "Jangan tiba-tiba langsung dikatakan untuk donasi. Konsumen berhak menolaknya," ujarnya.

antique.putra@vivanews.com

Karena Pungli, Indonesia Kalah dari China

Biaya ekonomi tinggi membuat Indonesia tidak kompetitif dengan China.

Meski sama-sama mengalami pertumbuhan ekonomi positif pascakrisis global, Indonesia masih bertekuk lutut dengan kedigdayaan industri China. Salah satu penyebabnya, masih tingginya biaya ekonomi di Indonesia.

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada Mudrajad Kuncoro mensinyalir biaya ekonomi tinggi (grease money), salah satunya karena banyaknya pungutan liar atau upeti.

"Dalam yang setahun (pungli) bisa mencapai Rp 3 triliun," kata Mudrajad di Jakarta, 11 Februari 2010. "Biaya ekstra ini harus dikeluarkan perusahaan sejak mencari bahan baku, memprosesnya, maupun ekspor."

Dia merinci, biaya-biaya ekstra tersebut berpotensi meliar mulai saat membayar PPN, melakukan illegal logging, memulai izin usaha, kenaikan UMK, kenaikan tarif (BBM, listrik, dan telepon), biaya THC (terminal handling charges), biaya parkir kontainer, biaya lewat kontainer, hingga pungutan liar di jalan raya.

"Itu kenapa kita tak bisa kompetitif seperti di China," ujarnya.

Dia mencontohkan, kenaikan UMP rata-rata di masing-masing provinsi hanya naik 15 persen per tahun, sementara jika dibandingkan di Batam bisa mencapai 250 persen per tahun.

Produktivitas tenaga kerja, menurut Mudrajad, juga mendorong industri di China maju pesat. Di China, pekerja harus bekerja selama 12 jam per hari, sedangkan di Indonesia hanya 7-8 jam per hari.

"Kalau di Indonesia banyak hari libur, tapi di China hari liburnya paling hanya 4 hari setahun. Karena di sana cuma merayakan Imlek. Selain itu, mesin pabrik di China produksi 7 hari dalam seminggu. Jadi akan susah kalau kita lawan China," ujarnya.

hadi.suprapto@vivanews.com

"Klaim" Budaya Itu, Sekali Lagi

Oleh Radhar Panca Dahana

Supaya tidak terjebak dalam siklus kata-kata yang tidak produktif, kasus ”klaim tari pendet oleh Malaysia” ada baiknya mengklarifikasi satu hal: klaim yang diributkan itu sebenarnya tidak ada.

Promo wisata Malaysia yang dibuat Discovery Channel tidak menyebutkan ikon-ikon budaya Indonesia yang ditampilkan sebagai milik, karya cipta, atau hak budaya mereka. Hal itu hanya dilakukan untuk kepentingan komersial/bisnis.

Untuk soal seperti ini, sebenarnya terlampau kerap kita menjumpai kasus serupa, tanpa kita keberatan. Promo wisata Singapura, misalnya, tak terhitung frekuensinya menggunakan gambar/video karya budaya Indonesia, termasuk wayang dan tari pendet. Tak ada keributan. Sebagaimana kita tahu, dalam propaganda politiknya, Nelson Mandela hadir di media massa global mengenakan batik. Atau museum di Paris dan Barcelona mempromosikan gamelan sebagai ikon utamanya.

Dalam sebuah pergaulan budaya, sejak ribuan tahun, soal jiplak-menjiplak adalah hal lumrah, bahkan menjadi kewajaran kebudayaan. India tidak pernah marah saat orang Jawa menyatakan Mahabarata atau Ramayana adalah ekspresi kultural, bahkan sumber identitas.

Rabindranath Tagore, pada awal abad ini, setelah berkeliling Jawa, menegaskan kepada sejawatnya, Sanusi Pane cs, tentang sasus ada ”India kecil” di kawasan tenggara. ”Dusta. Itu bukan India,” tegasnya, ”itu Jawa, yang bahkan India sendiri tidak mampu membuatnya.”

Begitupun China tidak marah dengan banyak ekspresi budaya Indonesia yang diambil darinya, mulai sisingaan di Subang, beduk, baju koko, hingga—menurut Remy Silado—nada musik slendro. Apakah keroncong membangkitkan amarah orang Portugis? Bagaimana dengan musik gambus, marawis, sastra Bali, seni Betawi, hingga gaya harajuku anak muda masa kini?


Kekuatan unik kita

Pada persoalan penciptaan, sebuah karya budaya, seperti seni, dalam waktu dan ruang tertentu akan bergeser—bahkan secara yuridis—menjadi milik atau wilayah publik. Perluasan ruang dan waktu itulah yang membentuk magnitude dari sebuah karya, yang nilai dan penghargaannya melampaui jumlah tiket, piala, atau sekadar besaran royalti.

Terlebih bila karya itu dire-kreasi pihak lain—yang mungkin asing—untuk kemudian menjadi medium aktualisasi diri, bahkan hingga tingkat identifikasi diri. Sebenarnya dengan itu sebuah karya telah mencapai kulminasi pencapaian kreatifnya.

Maka sebenarnya amat mengagumkan, bahkan membanggakan, bila sebuah karya, katakanlah Für Elise-nya Beethoven, menjadi romansa yang dinyanyikan setiap pencinta di dunia, atau menjadi lagu penanda truk sampah di Taiwan dan Iran, jadi kode penjual gas di Turki dan Brasil.

Kita pun tahu bagaimana lagu-lagu Beatles pernah menjadi ”lagu kebangsaan” generasi bunga akhir 1960-an. Begitupun blues, jazz, rap, atau reggae, yang dimiliki secara subyektif oleh musikus seantero jagat, tanpa membuat masyarakat Harlem, Mississippi, atau Jamaika geram. Karena begitulah cara masyarakat dunia merawat karya-karya terbaiknya di bidang kebudayaan. Begitulah kita bangga pada batik, wayang, atau Borobudur menjadi warisan dunia, menjadi milik dunia, dimanfaatkan dan dipelihara masyarakat dunia.

Dengan alasan ringkas itu, jelaslah bagi kita, jika masalah ”klaim” dilanjutkan, bukan saja akan memukul balik diri sendiri, tetapi juga membuat kita rudin secara kultural. Begitu banyak produk kebudayaan kita dapat dirujuk asal-usul asingnya.

Apa yang mungkin menarik dan ”unik” dari hubungan interkultural yang intensif dan masif di kepulauan ini adalah kemampuan masyarakatnya mengolah, menghibridasi semua khazanah simbolik yang datang dari luar, dalam satu larutan atau produk dengan dengan karakter budaya yang baru. Sebuah kemampuan—juga kekuatan—yang ditemukan di Bali, Sunda, Jawa, Minang, Bugis, Betawi, Banjar, dan Betawi.

Masalah timbul saat untuk kekuatan dan kemampuan ini justru pemerintah minim, bahkan hampir absen, peran dan perhatiannya sehingga bukan saja proses dan kerja kebudayaan mengalami disorientasi secara kolektif, pemerintah pun mengalami krisis karena kehilangan otoritasnya dalam kerja dan proses itu. Krisis ini pula yang akhirnya menjawab pertanyaan kita belakangan ini: mengapa sebagian masyarakat mudah marah untuk masalah yang lumrah?


Kekecewaan publik

Dalam pertemuannya dengan pimpinan MPR, anggota Mufakat Budaya seperti musikus dan aktor senior, Yockie Suryoprayogo dan Sys Ns, mengisahkan, bagaimana dunia musik dan film Indonesia dapat berkembang hingga hari ini semata karena perjuangan keras pelaku kreatifnya. Bila tidak minim, negara nyaris absen. Sebuah keadaan juga dirasakan pekerja sastra, tari, seni rupa, teater, dan lainnya.

Tali-menali dengan persoalan lain di bidang ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan sebagainya, kenyataan itu menciptakan kekecewaan publik yang dalam bobot tertentu menghancurkan wibawa kebudayaan pemerintah. Kekecewaan itu seperti mendapat justifikasi saat masyarakat melihat kenyataan bagaimana kini pemerintahan mudah dipengaruhi atau dibawa arus besar politik dan ekonomi global. Tanpa resistensi atau semacam tawaran alternatif.

Malaysia pun hadir sebagai penyebab saat dalam upayanya mencapai kedigdayaan politis—sebagaimana kesejahteraan ekonomis yang diraihnya—negeri itu mencoba menggoyahkan otoritas politik Indonesia yang begitu dominan di ASEAN. Berawal dari ”kemenangan besar” merebut Sipadan dan Ligitan, Malaysia mengusik wibawa politik Indonesia bukan cuma di soal kesenian, tetapi juga di Ambalat, di masalah perbatasan, pencurian kayu dan ikan, TKW, hingga simbol-simbol sakral dunia politik, seperti lagu kebangsaan.

Hasilnya? Pemerintah Indonesia seperti kehilangan akal, rapuh dan lapuk harga dirinya. Jalur-jalur diplomatik, militer, atau intelijen seperti mati-angin dalam mengatasinya. Saat media mengangkatnya ke permukaan, kekecewaan itu mengeras menjadi kemarahan publik. Hiruk-pikuk ”klaim” menjadi refleksi kemarahan. Dan Malaysia hanyalah pispot kekecewaan publik yang sebenarnya mengarah secara internal ke pemerintahan sendiri yang terdegradasi wibawanya.

Seyogianya ini menjadi semacam pembelajaran, bangsa dan negara ternyata tidak cukup dan tidak akan selesai hanya pada parsial politis, ekonomis, atau teknologis saja. Kebudayaan terbukti menjadi fundamen yang meneguhkan semua sukses itu. Tanpanya, semua sukses itu akan mengapung, menjadi artifisial, bahkan ilusif di banyak bagian. Apa lantaran itu sebuah bangsa kemudian harus terus tinggal dalam imaji kita saja?

Pemerintah yang berbudaya harus menjawabnya.

sumber KOMPAS 16 Sept 09
oleh Radhar Panca Dahana Sastrawan

Kamis, 11 Februari 2010

Ciri khas Film Indonesia Jaman Dulu

Adegan-adegan yang biasanya ada dalam film-film Indonesia "jadul" (jaman dulu) tahun 1970-an dan 1980-an:

1. Makan bersama keluarga. Entah maksudnya apa, selalu pamer apa yang dimasak + pembantu rumah tangganya, atau pamer peralatan dapur. Dan biasanya minumannya selalu jus jeruk.

2. Cinta yang tidak disetujui orang tua. Entah sudah berapa judul film Rano Karno yang temanya beginian.

3. Tokoh Ayah selalu berbaju safari. Biasanya warnanya coklat muda,dengan 2 bolpen di kantongnya, membawa koper, dan biasanya ke kantor.

4. Polisi yang selalu datang terlambat. Seperti biasa, polisi selalu terlambat untuk menangangi masalah dalam film Indonesia , dengan kalimat yang kaku dan khas: "Ini memang buronan yang sedang kami cari, Pak!"

5. Adegan pub/bar/nightclub. Scene ini biasanya lampu remang-remang warna kemerahan, diiringi musik-musik kaya' ABBA, Beegees, Kool and The Gang.Lalu minuman diberi obat perangsang.

6. Masuk Rumah Sakit. Biasanya karena penyakit yang baru disadari sudah stadium 2 atau 3, karena mengidap kanker, leukimia, atau jantungnya kambuh. Sangat jarang penyakitnya bengek, korengan, atau diare. Dokternya biasanya berkumis, badan agak gemuk, kacamata baca model Malcolm X,stetoskop menggantung di leher, dan biasanya ngomong : "Bapak dan Ibu tidak usah khawatir, kami akan berusaha semampu kami."

7. Adegan lari-larian di taman atau di pinggir laut sambil ketawa-ketawa kecil "hahaha...hahaha. .." trus yang cewek menjatuhkan diri. Maksudnya romantis, tapi kok malah jadi lucu. Trus saat adegan ciuman, diganti (disensor) dengan deburan ombak atau bunga mawar.

8. Mau di-per-kosa trus nggak jadi karena jagoannya datang. Entah dari mana, tiba-tiba berantem aja sama yang mau mem-per-kosa.

9. Tokoh kyai/orang sakti/pemuda yang alim. Biasanya untuk ngusir setan kaya kuntilanak, arwah penasaran dan lain-lain. Banyak ditemui difilm-film horor Indonesia dan biasanya selalu menang.

10. Di setiap ending film pasti disertai dengan tulisan: SEKIAN, TAMAT,SELESAI, dan lain-lain dengan warna-warna yang cerah.

11. Kalau cowok pergi ngapel ke rumah camer biasanya bawa oleh-oleh kue tart yang norak-norak (zaman segitu belum ada black forest, atau tiramisu sih!)

12. Kalau kuliah naik motor and berambut gondrong.

13. Cewek kalau dijemput cowoknya pakai mobil, pintunya dibukain.

14. Adegan buang puntung rokok, terus dimatiin pake kaki. Mungkin biar
sepatu boot/kulit mengkilap-nya keliatan.

15. Kalau perpisahan bikin acara disko sendiri di rumah.

16. Terjadinya ML ya karena gak sengaja, sering kali gara-gara kehujanan atau pada saat hujan.

17. Kalau mau ketemu cewek, si cowok sisiran dulu. Rambut gondrong dangdut, diminyakin dan sisirnya ditaruh di saku belakang. Biar tambah keren, biasanya sisirnya nongol sedikit.

18. Nama peran utamanya kalau cowok selalu JOHAN, HENDRA, ANTON, BRAM, dll (BRAM.."Brambang Abang" kali ye wakakak)

19. Kalau naik motor nggak pernah pake helm.

20. Cewenya kalau habis dimarahin sama bokapnya, biasanya langsung lari ke kamar terus nangis tersedu-sedu di ranjang (biasanya film-film Oma Irama).

21. Suka ada iklan tersembunyi, biasanya rokok. Pemeran utama megang2 rokok dengan gaya garing, biar merek nya bisa kesorot kamera.

22. Kalau pemeran utama cowoknya dalam ceritanya udah jadi tua, biasanya mukanya cuma tinggal ditambahin kumis doang. Tapi tampangnya tetep aja muda.

23. Kalau film silat, gadis desanya senang nyuci di kali pakai kemben,bawa bakul, bajunya cuma 2 biji. Pas lagi nyuci, datang penjahat dan langsung tuh pejahat pengen mem-per-kosa.

24. Kalau film perang, kapten Belanda biasanya orang Indonesia pake wig pirang, serdadunya senang jalan-jalan keliling kampung, pas liat cewek lagi nyuci di kali,kejadian berikutnya sama dengan no 23 di atas. (apa orang jaman dulu
emang pada horny semua ya?? Wakakaka.)

25. Biasanya kisah sedihnya beruntun. Misalnya: anak sakit, nggak punya uang, mau beli obat, hujan deras, eh si emak ketabrak mobil lagi..(apesss. .)

27. Anak SMA pake seragam, lengannya dilinting, nggak cewe ngga cowo. Celananya baggy, atau yang pipanya nyempit di bawah.

28. Rambut cewek belahannya di samping.

29. Vokal untuk theme song suaranya lirih dan mendesah desah.(ahh..ahhh.. ahhh..)

30. Kalau ada yang mau mati, pasti ninggalin pesen duluan, baru mati.(nah lho..)

31. Suara cewe kalo lagi marah pasti jadi gembret. (btw, gembret apaan sih? --red)

32. Zainal Abidin kebanyakan jadi tokoh Bapak.

33. Kalau di film anak-anak, biasanya ibu atau bapaknya meninggal. Sianak tinggal sama ibu tiri atau bibinya, dijadiin pembokat, dimarahin. Sianak kabur ke kota , jadi gelandangan. Biasanya dipungut orang kaya, trus jadi penyanyi cilik terkenal. Biar rada dramatis sering tuh anak akhirnya ditabrak mobil. Kadang dibikin mati, kadang cuma cacat.

34. Kalau ada cewek yang mau diculik, biasanya ntu cewek lagi jalan ditempat sepi yang nggak ada orang/mobil lewat. Padahal sebelumnya ga pernah dia lewat jalan sepi begitu. tau kali ya mau diculik????

35. Kalau film eksyen, adegan berantem di jalan ramai dilanjutkan dengan kejar-kejaran. Dari kota tiba-tiba pindah berantem ke tengah sawah!Proses tengahnya (kok dari kota bisa langsung nyebur kesawah) gimana, gak tau dah..

36. Kalau adegan daerah pelacuran, biasanya di pinggir sungai, ada becak sama warung jualan bir. Terus ada adegan WTS godain orang lewat.Kadang-kadang ada bencongnya juga.

37. Adegan batuk-batuk. Habis itu keluar darah...dilap tissue....dijamin abis itu pasti mati.

39. Cerita SMA biasanya sering ada murid baru, biasanya cewek. Sering ada adegan cowok godain cewek pake lemparan gulungan kertas atau kapur. Surat cintanya biasanya nyasar ke temen cewek yang jelek dan gendut atau ke ibu guru.

40. Kalau jajan di kantin biasanya makannya bakso, duduk di bangku panjang kayak di warteg. (ga ada makanan lain kali ya???)

41. Kalau lulus-lulusan biasanya kemping ke gunung, di bis nyanyi-nyanyi kayak anak TK.

42. Kalau bikin geng biasanya ada yang gendut, bencong, atau kurus.

43. Jagoan SMA biasanya ketua OSIS, kalau sekolah bawa tas kecil yang ditaruh di bahu, bukunya kadang cuma satu biji, lusuh lagi.

44. Hantu-hantu di film horor:
- Biasanya yang jadi korban duluan adalah orang yang lagi ronda.
- Kuntilanaknya sering jajan sate.
- tiap tengah malam ada aja tukang sate yang keliling (yang pasti bukan nyari
pembeli, wong namanya tengah malam mana ada orang yang nyari..apalagi
didesa-desa)

45.Omar Syarif pasti jadi petinggi VOC atau paling tidak Demang Belanda,kerjaannya cari kembang desa, trus selalu bilang "Over Domeh" keantek-anteknya (Modol teu omeh - siganamah)

46.Anteknya/ prajurit Demang Belanda kagak pernah banyak / kolosal, pasti cuma ber lima atawa ber enam, sementara Inlander-nya malah lebih banyak (Budget-nya nggak nyampe kali)

47.Kalo lagi makan di restoran pasti tamu-tamu yang lain pada jadi patung... ada yang duduk doang gak ngapa2in. Satu-satunya Jus yang dipesen gak disentuh-sentuh. ... (kali ngirit biaya kalo harus shooting berulang-ulang)

48.Pasti keluar dari resto-nya berdua Cowok & Cewek.... Wagu Poolllll.Kagak pernah ada, cuma sendirian ato ama kucing.

49."Pletak.. pletok..pletak. ..pletok. .." kagak cewek kagak cowok kalo jalan sama aja bunyinya. (hak sepatunya dari baja kali ya.. wakakaka)

50. Pong Hardjatmo perannya selalu jadi penggoda wanita, juga kadang sering mem-perkosa. ..... pokoke mekso banget....

51. Terus keliling Jakartanya diseputaran Bundaran HI yang selalu nampak khas HOTELnya, biasanya naik mobil yang tahun lama banget (JADUL= jaman dulu) kalo nggak gitu ya Tugu Pancoran

52. Buset dah... dibaca ampe abis ???? Nganggur amat sih ... balik kerja sono gih!!! Gw bilangin bos lu nyahok..!!!

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3344014